“Anak muda bukan hanya penerus gerakan, tetapi penggerak perubahan.”
Perubahan tidak selalu dimulai dari ruang-ruang besar.
Kadang, ia dimulai dari percakapan sederhana di antara teman sebaya. Dari seseorang yang berani bertanya, “Kamu baik-baik saja?” Dari keberanian untuk mendengarkan cerita korban tanpa menyalahkan. Dari keputusan untuk tidak ikut tertawa ketika ada candaan yang merendahkan perempuan. Atau dari keberanian untuk mengatakan bahwa kekerasan bukan sesuatu yang wajar dan tidak boleh dinormalisasi.
Di tengah kekerasan, stigma, dan diskriminasi yang masih terjadi di sekitar kita, anak muda memiliki posisi yang penting.
Mereka bukan hanya generasi yang akan meneruskan gerakan sosial di masa depan. Mereka adalah bagian dari gerakan itu sendiri hari ini.
Anak muda dapat menjadi peer support bagi teman sebaya, relawan komunitas, fasilitator ruang aman, edukator isu gender dan kesehatan mental, penggerak kampanye digital, hingga menjadi penghubung korban dengan layanan bantuan.
Peran tersebut mungkin terlihat sederhana.
Tetapi bagi seseorang yang sedang mengalami kekerasan, memiliki satu orang yang mau mendengarkan tanpa menghakimi dapat menjadi alasan untuk berani mencari pertolongan.
Sebab, perubahan besar sering kali dimulai dari lingkungan yang paling dekat.
Mengapa Kaderisasi Anak Muda Penting?
Kaderisasi bukan sekadar proses mencari siapa yang akan meneruskan sebuah organisasi atau gerakan.
Kaderisasi adalah proses membangun pengetahuan, keberanian, solidaritas, dan kemampuan anak muda untuk memahami persoalan di sekitarnya serta mengambil bagian dalam perubahan.
Dalam isu kekerasan berbasis gender, kaderisasi menjadi semakin penting karena kekerasan sering kali tumbuh dari sesuatu yang dianggap biasa.
Candaan seksis dianggap humor.
Kontrol terhadap pasangan dianggap bentuk perhatian.
Victim blaming dianggap sebagai nasihat.
Kekerasan dalam hubungan dianggap urusan pribadi.
Ketika hal-hal tersebut terus dinormalisasi, lingkungan di sekitar korban dapat berubah menjadi ruang yang tidak aman.
Di sinilah anak muda memiliki peran penting.
Anak muda dapat menjadi orang pertama yang mengatakan bahwa perilaku tersebut bukan sesuatu yang wajar. Mereka dapat membantu menciptakan lingkungan yang tidak menyalahkan korban, tidak membenarkan pelaku, dan tidak memaksa korban untuk segera “melupakan” kekerasan yang dialaminya.
Ruang aman tidak selalu membutuhkan tempat yang besar.
Ruang aman dapat dimulai dari komunitas kecil, kelompok pertemanan, organisasi mahasiswa, sekolah, tempat kerja, hingga ruang digital.
Yang paling penting adalah adanya rasa percaya bahwa seseorang dapat berbicara tanpa takut dihakimi.
Namun, Menjadi Penggerak Perubahan Tidak Selalu Mudah
Di balik semangat anak muda untuk terlibat dalam gerakan sosial, terdapat berbagai tantangan yang sering kali tidak terlihat.
Stigma dari masyarakat.
Anggapan bahwa anak muda terlalu muda untuk bersuara.
Keraguan terhadap kompetensi mereka.
Minimnya dukungan dan akses terhadap sumber daya.
Ancaman kekerasan di ruang digital.
Hingga burnout dan kelelahan emosional karena terlalu lama berhadapan dengan cerita kekerasan.
Anak muda yang aktif dalam gerakan sosial sering kali berhadapan dengan persoalan yang berat bahkan ketika usianya sendiri masih sangat muda.
Mendengarkan cerita korban berulang kali bukan sesuatu yang mudah.
Membaca berita tentang kekerasan setiap hari bukan sesuatu yang ringan.
Berhadapan dengan komentar kebencian di media sosial juga dapat meninggalkan luka.
Karena itu, gerakan sosial tidak boleh hanya mengajarkan anak muda bagaimana memperjuangkan orang lain.
Gerakan juga harus mengajarkan mereka bagaimana menjaga dirinya sendiri.
Tidak Harus Menyelamatkan Semua Orang Sendirian
Ada anggapan bahwa menjadi aktivis atau bagian dari gerakan sosial berarti harus selalu kuat.
Harus selalu tersedia.
Harus selalu mampu membantu.
Harus selalu siap ketika ada korban yang membutuhkan.
Padahal, anak muda juga manusia.
Mereka bisa lelah. Mereka bisa takut. Mereka bisa marah. Mereka bisa sedih. Mereka juga bisa membutuhkan pertolongan.
Anak muda tidak harus menyelamatkan semua orang sendirian.
Membagi peran bukan berarti tidak peduli. Meminta bantuan bukan berarti lemah. Beristirahat bukan berarti menyerah.
Justru, kemampuan untuk mengenali batas diri merupakan bagian dari keberlanjutan gerakan.
Anak muda perlu memiliki komunitas yang suportif dan aman. Mereka perlu belajar membatasi paparan terhadap konten kekerasan yang berlebihan. Mereka juga perlu memberikan ruang bagi dirinya sendiri untuk beristirahat dan memvalidasi emosinya sebelum membantu orang lain.
Karena bagaimana mungkin kita membangun ruang aman bagi orang lain jika diri kita sendiri tidak pernah memiliki ruang untuk merasa aman?
Gerakan yang sehat bukan gerakan yang membuat semua orang terus-menerus kuat.
Gerakan yang sehat adalah gerakan yang memungkinkan orang-orang di dalamnya saling menjaga.
Lalu, Apa Hubungannya dengan Pencegahan Kekerasan?
Berdasarkan Catatan Tahunan LBH APIK Semarang tahun 2025, remaja masih menjadi salah satu kelompok korban kekerasan dengan jumlah yang tinggi.
Data tersebut menunjukkan bahwa pencegahan kekerasan tidak dapat hanya dilakukan setelah kekerasan terjadi.
Pencegahan harus dimulai dari lingkungan tempat anak muda tumbuh dan berinteraksi.
Anak muda yang memiliki pengetahuan dan kesadaran mengenai kekerasan akan lebih mampu mengenali tanda-tanda kekerasan di sekitarnya.
Mereka dapat menjadi pendengar pertama bagi korban.
Mereka dapat membantu membangun ruang aman bagi kelompok sebayanya.
Mereka dapat melawan budaya victim blaming.
Mereka dapat mencegah normalisasi kekerasan.
Dan mereka dapat bersuara ketika melihat ketidakadilan.
Komunitas yang diisi oleh anak muda yang peduli dapat menjadi salah satu lapisan perlindungan pertama bagi korban kekerasan, terutama ketika kekerasan terjadi di lingkungan pertemanan dan kelompok sebaya.
Sebab terkadang korban tidak langsung datang kepada lembaga layanan.
Mereka lebih dulu bercerita kepada teman.
Mereka lebih dulu mengirim pesan kepada seseorang yang dipercaya.
Mereka lebih dulu bertanya, “Menurut kamu, apa yang aku alami ini salah?”
Pada titik itulah pengetahuan dan sikap orang yang menerima cerita tersebut menjadi sangat penting.
Satu respons yang menyalahkan dapat membuat korban semakin diam.
Sebaliknya, satu respons yang aman dapat menjadi langkah pertama bagi korban untuk mencari pertolongan.
Kaderisasi Bukan Sekadar Mencari Penerus
Kita sering membicarakan kaderisasi sebagai upaya untuk memastikan sebuah gerakan tetap berjalan.
Tetapi ada satu hal yang sering terlupakan: siapa yang menjaga orang-orang yang menjalankan gerakan tersebut?
Anak muda tidak boleh hanya dipersiapkan untuk menjadi penerus.
Mereka juga harus dipastikan memiliki pengetahuan, ruang aman, dukungan, dan kemampuan untuk menjaga dirinya sendiri.
Sebab gerakan sosial yang berkelanjutan tidak dibangun dari orang-orang yang dipaksa kuat setiap hari.
Ia dibangun dari orang-orang yang tahu kapan harus bergerak, kapan harus berhenti, kapan harus meminta bantuan, dan kapan harus saling menggantikan untuk menjaga satu sama lain.
Kaderisasi berarti menumbuhkan keberanian.
Tetapi kaderisasi juga berarti menumbuhkan kepedulian.
Bukan hanya kepedulian kepada korban yang sedang didampingi, tetapi juga kepada teman seperjuangan yang mungkin diam-diam sedang kelelahan.
Kita tidak membutuhkan generasi yang dipaksa kuat terus-menerus.
Kita membutuhkan generasi yang berani bersuara, tetapi juga tahu bahwa mereka tidak sendirian.
Generasi yang mampu melawan kekerasan, tetapi tidak membangun gerakannya dengan kekerasan terhadap diri sendiri.
Generasi yang berani memperjuangkan perubahan, tetapi tetap memiliki ruang untuk beristirahat, bertumbuh, dan memiliki harapan.
Karena pada akhirnya, kaderisasi bukan hanya tentang siapa yang akan meneruskan perjuangan.
Kaderisasi adalah tentang memastikan bahwa mereka yang memperjuangkan perubahan tetap hidup, tetap aman, dan tetap memiliki harapan untuk melihat perubahan itu terjadi.
Mungkin, gerakan yang paling kuat bukanlah gerakan yang tidak pernah tumbang.
Melainkan gerakan yang ketika salah satu dari mereka jatuh, ada tangan lain yang bersedia mengangkatnya kembali.
Ditulis oleh:
TIM LBH APIK SEMARANG
Referensi:
LBH APIK Semarang Edukasi Kaderisasi dan Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender; pengalaman pendampingan komunitas dan kader muda LBH APIK Semarang; UN Women, Youth Leadership & Gender Equality; UNICEF Indonesia, Partisipasi Anak Muda dan Ruang Ama

Tidak ada komentar:
Posting Komentar