DPR RI resmi mengesahkan Rancangan Undang-Undang Pelindungan Saksi dan Korban (RUU PSDK) menjadi undang-undang pada tanggal 21 April 2026 yaitu Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2026 Tentang Pelindungan Saksi dan Korban (UU PSDK). UU PSDK yang baru ini menggantikan aturan lama (UU No. 13 Tahun 2006 Tentang Perlindungan Saksi dan Korban dan UU No. 31 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Saksi dan Korban / UU LPSK) demi memperkuat posisi Lembaga Pelindungan Saksi dan Korban (LPSK) serta memberikan jaminan yang lebih adil bagi para korban tindak pidana.
Krisis Ruang Sidang dan Jeratan Ketakutan
Selama berpuluh-puluh tahun, sistem peradilan kita mengidap satu kesalahan berpikir: terlalu sibuk menghukum pelaku, lupa memulihkan korban. Di ruang-ruang sidang, sebuah ironi besar sering kali terjadi. Korban kekerasan seksual, penyintas perdagangan orang, hingga pelapor kasus korupsi sering kali harus bertarung sendirian. Setelah mengalami trauma akibat kejahatan, mereka dipaksa mengalami trauma kedua (revictimization) di hadapan hukum. Mereka di ancam fisik, di kriminalisasi, di isolasi secara sosial, hingga jatuh miskin untuk membiayai pemulihan medis dan psikologis mereka sendiri. Menjadi saksi dan korban di negeri ini sempat menjadi pilihan yang menakutkan. Ketakutan inilah yang mematikan kebenaran. Ketika saksi bungkam dan korban memilih diam, disanalah hukum runtuh dan pelaku kekerasan melenggang bebas.
Urgensi Perubahan UU LPSK menjadi UU PSDK
Kehadiran undang-undang perlindungan terdahulu yaitu Undang-Undang No. 13 Tahun 2006 dan Undang-Undang No. 31 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Saksi dan Korban telah meletakkan batu pertama. Namun, gelombang kejahatan modern yang makin kompleks menuntut senjata hukum yang lebih tangguh. Melalui pengesahan Undang-Undang Pelindungan Saksi dan Korban (UU PSDK) oleh DPR RI, negara akhirnya menggeser kemudian peradilan secara radikal. Ini bukan sekadar revisi pasal di atas kertas; ini adalah manifesto bahwa keadilan sejati tidak boleh mengorbankan suara kebenaran. Kita sedang memasuki era baru di mana negara memosisikan dirinya sebagai perisai bagi mereka yang ringkih di hadapan hukum.
Perubahan Undang-Undang LPSK menjadi Undang-Undang PSDK pun mengubah beberapa struktur daripada isinya, yaitu
Memperluas perlindungan yang semula hanya saksi dan korban menjadi saksi pelaku (justice collaborator), pelapor (whistleblower), informan, ahli, hingga setiap orang yang memberikan keterangan penting berkaitan dengan perkara pidana. Siapa pun yang bersuara untuk kebenaran, keselamatannya dijamin penuh oleh hukum.
Selama ini, pelayanan terpusat di Jakarta membuat korban di pelosok daerah terisolasi dari bantuan cepat. Kini, kedudukan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) diperkuat sebagai lembaga negara independen yang wajib membentuk kantor perwakilan di tingkat daerah. Perlindungan kini menjemput bola, bergerak cepat, dan berada dekat di samping korban.
Dana Abadi Korban (Victim Trust Fund): Berapa banyak korban yang harus menanggung biaya rumah sakit atau trauma psikologis seumur hidup karena pelaku tidak mampu membayar ganti rugi (restitusi)? UU PSDK menjawabnya dengan menghadirkan Dana Abadi Korban. Negara hadir menjamin pemulihan medis, kompensasi, dan bantuan psikososial secara langsung tanpa korban harus mengemis keadilan.
Penguatan ini menyelaraskan gerak LPSK secara terintegrasi dengan penegak hukum lain, memperkuat posisi korban dalam koridor hukum acara pidana yang lebih inklusif dan manusiawi.
Kemampuan Hakim Untuk Rechvinding Menggeser Orientasi Pemidanaan Menuju Pemulihan Korban
Namun, perubahan regulasi saja tidak cukup apabila cara pandang aparat penegak hukum, khususnya hakim, masih terjebak dalam paradigma pemidanaan yang semata-mata berorientasi pada pelaku. Di sinilah pentingnya rechtsvinding atau penemuan hukum oleh hakim. Hakim tidak cukup hanya membaca hukum sebagai rangkaian norma yang kaku, tetapi juga harus menggali, mengikuti, dan memahami nilai-nilai hukum serta rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat sebagaimana diamanatkan Pasal 5 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman.
Dalam perkara kekerasan seksual, misalnya, keberhasilan proses peradilan tidak seharusnya hanya diukur dari berapa lama pelaku dijatuhi pidana penjara. Pertanyaan yang juga harus dijawab ialah apakah korban memperoleh kembali hak-haknya, apakah biaya pengobatan dan pemulihan psikologisnya terpenuhi? Apakah kerugian materiil dan immateriilnya diperhitungkan? Serta apakah negara memastikan korban dapat melanjutkan hidupnya secara aman dan bermartabat? Pemidanaan tetap penting untuk mempertanggungjawabkan perbuatan pelaku, memberikan efek jera, dan mencegah kejahatan berulang. Akan tetapi, penghukuman pelaku tidak boleh menjadi satu-satunya tujuan yang membuat penderitaan dan kebutuhan korban kembali terpinggirkan.
Rechtsvinding (penemuan hukum) adalah proses pembentukan hukum oleh hakim dalam memutus suatu perkara ketika hukum tertulis (undang-undang) tidak jelas, tidak lengkap, atau bahkan tidak ada. Hakim memiliki kewajiban konstitusional dan legal untuk menemukan hukum yang hidup di masyarakat. Pasal 10 Ayat (1) UU No. 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman, menyebutkan bahwa pengadilan tidak boleh menolak untuk memeriksa, mengadili, dan memutus suatu perkara yang diajukan dengan dalih bahwa hukum tidak ada atau kurang jelas, melainkan wajib untuk memeriksa dan mengadilinya. Pasal 5 Ayat (1) UU No. 48 Tahun 2009, menyebutkan bahwa hakim dan hakim konstitusi wajib menggali, mengikuti, dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat.
Karena itu, rechtsvinding hakim harus diarahkan pada terwujudnya keadilan substantif, termasuk dengan memastikan hak korban atas restitusi dipertimbangkan secara serius dalam proses peradilan. Restitusi bukanlah semata-mata belas kasihan yang diberikan kepada korban, melainkan hak yang harus diperjuangkan melalui mekanisme hukum. Menurut Pasal 30 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 Tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS) mengatur hak korban atas Restitusi dan Layanan Pemulihan, serta kewenangan penyidik untuk menyita harta pelaku sebagai jaminan restitusi, sedangkan Pasal 31 UU mengatur penyampaian pemberitahuan mengenai hak tersebut kepada korban.
Dengan demikian, penanganan perkara kekerasan seksual tidak semestinya berhenti pada pembuktian tindak pidana dan penjatuhan pidana, tetapi juga harus memperhatikan pemulihan kerugian yang dialami korban.
Persoalan muncul ketika pelaku tidak memiliki kemampuan ekonomi untuk membayar restitusi. Apakah korban kemudian harus menanggung sendiri seluruh biaya pemulihannya? Apakah ketidakmampuan pelaku secara finansial boleh menjadi alasan bagi korban untuk kehilangan akses terhadap keadilan? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu menunjukkan bahwa tanggung jawab pemulihan tidak dapat semata-mata dibebankan kepada pelaku tanpa memikirkan mekanisme perlindungan ketika restitusi tidak dapat dibayarkan secara penuh.
Kehadiran Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2026 tentang Pelindungan Saksi dan Korban (UU PSDK), yang ditetapkan dan mulai berlaku pada tanggal 20 Mei 2026, membuka ruang penguatan tanggung jawab negara tersebut. Pasal 9 Ayat (1) huruf c memberikan dasar bagi korban untuk memperoleh pendanaan layanan pemulihan yang bersumber dari Dana Abadi Korban. Menurut Pasal 13 UU PSDK mengatur penyediaan dan pengelolaan Dana Abadi Korban, pemanfaatan hasil pengelolaannya oleh LPSK, serta sumber pendanaannya. Ketentuan Pasal 13 Ayat (7) UU PSDK menyebutkan bahwa dana tersebut dapat digunakan untuk dana bantuan korban tindak pidana kekerasan seksual dan tindak pidana lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Dengan demikian, Dana Abadi Korban merupakan instrumen penting untuk memperkuat keberlanjutan pendanaan pemulihan korban, meskipun pelaksanaannya tetap harus mengikuti ketentuan dan mekanisme yang berlaku. Perlu dibedakan bahwa restitusi dan Dana Abadi Korban bukanlah dua hal yang identik. Restitusi merupakan ganti kerugian yang dibebankan kepada pelaku atau pihak ketiga berdasarkan penetapan atau putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap. Adapun Dana Abadi Korban merupakan instrumen pendanaan untuk kompensasi dan pemulihan korban. Oleh karena itu, keberadaan Dana Abadi Korban tidak boleh dimaknai sebagai alasan untuk mengabaikan kewajiban pelaku membayar restitusi. Sebaliknya, mekanisme tersebut harus dibaca sebagai bagian dari sistem yang lebih luas untuk memastikan bahwa hak korban atas pemulihan tidak berhenti di atas kertas hanya karena pelaku tidak mampu membayar.
Dalam konteks ini, hakim mempunyai peran strategis untuk memastikan bahwa kebutuhan korban tidak luput dari proses pemeriksaan dan putusan. Hakim perlu menggali dampak tindak pidana terhadap kehidupan korban, memperhatikan kerugian materiil maupun immateriil yang dapat dibuktikan, serta mempertimbangkan restitusi sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. Hakim juga perlu memastikan bahwa korban memperoleh informasi dan kesempatan yang memadai untuk mengajukan haknya, termasuk melalui mekanisme yang melibatkan LPSK. Pendekatan tersebut tidak berarti hakim dapat mengabaikan asas legalitas atau menciptakan kewajiban di luar kewenangannya, melainkan menggunakan ruang penafsiran hukum yang tersedia untuk menghadirkan keadilan yang tidak berhenti pada formalitas prosedural.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan peradilan pidana tidak boleh hanya terletak pada kemampuan negara menemukan, mengadili, dan menghukum pelaku (chase the person). Negara juga harus mampu memastikan bahwa korban tidak ditinggalkan setelah putusan dibacakan. Sebab, bagi korban, berakhirnya persidangan belum tentu berarti berakhirnya penderitaan. Trauma psikologis, kehilangan penghasilan, biaya pengobatan, stigma sosial, dan kebutuhan untuk membangun kembali kehidupan dapat berlangsung jauh lebih lama daripada masa pidana yang dijatuhkan kepada pelaku. Karena itu, pengesahan UU PSDK harus diikuti perubahan cara pandang dalam praktik peradilan. Hakim, Jaksa, Penyidik, dan LPSK perlu bergerak dalam kerangka yang saling melengkapi: pelaku tetap dimintai pertanggungjawaban, sedangkan hak korban atas perlindungan, restitusi, kompensasi, dan pemulihan dipastikan melalui mekanisme hukum yang tersedia. Keadilan sejati bukan hanya ketika pelaku menerima hukuman yang setimpal, melainkan ketika korban tidak lagi dipaksa menanggung sendiri seluruh harga dari kejahatan yang menimpanya.
Semarang, Oktober 2026
Tim Penulis:
Stella Hita Arawinda, S.H., M.H.; Tasya Asaura Nursabilla, S.Psi.; dan Raden rara Ayu Hermawati Sasongko, S.H., M.H.




